Tak banyak klub sepak bola di Indonesia yang memiliki
fisioterapis. Apalagi, seorang perempuan. Fortunella Levyana menjadi
satu-satunya fisioterapis perempuan di sepak bola Indonesia.
Seorang perempuan muda terlihat berjalan sendiri di mes klub Indonesia
Super League (ISL) Pelita Bandung Raya (PBR) di Pusdikajen Maribaya,
Lembang, Jawa Barat.
Dia keluar masuk kamar pemain. Tak lazim memang, seorang perempuan muda berada di kawasan mes klub yang isinya laki-laki.
Namun, Nella, sapaan akrab Fortunella Levyana, terbiasa melakukan
kegiatan itu untuk memantau kondisi para pemain PBR. Sebagai
fisioterapis, tugasnya adalah menjaga dan melihat perkembangan pemain
setelah melakoni pertandingan.
Dia harus selalu siaga jika ada pemain yang cedera, baik ringan maupun
berat. Karena itu, tak jarang dia harus keluar masuk kamar pemain. "Itu
menjadi tugas saya. Saya harus terus menyupervisi pemain," katanya
kepada Jawa Pos.
Sebagai perempuan, Nella sempat merasa risi. Sebab, dia harus bekerja di
sekitar pemain bola yang seluruhnya lelaki. Karena itu, awal menjalani
tugasnya dia sempat merasa aneh. Dia sempat kagok karena menjadi
satu-satunya perempuan yang berada di mes dan harus keluar masuk kamar
pemain laki-laki.
Satu minggu pertama tugas Nella tak bisa maksimal. Alasannya, dia harus
beradaptasi dengan dunia sepak bola dan budaya pemain. Nella tidak bisa
langsung menanyakan kondisi pemain. Dia pun tidak langsung masuk ke
kamar mereka.
"Pernah ketuk-ketuk pintu, tapi pemain nggak keluar-keluar. Mau masuk
takut, tapi harus memeriksa. Saya terpaksa menunggu hampir sejam di luar
kamar. Eh, ternyata pemainnya tidak di kamar," ujarnya menceritakan
pengalamannya saat awal bekerja.
Aktif menjadi fisioterapis klub ISL mulai 4 Januari lalu, Nella butuh
waktu hampir sebulan untuk membiasakan diri. Terlebih, mayoritas pemain
di PBR belum mengerti tugas fisioterapis. Pemain juga masih malu-malu
untuk ditangani perempuan.
Jadilah, saat menjalankan pekerjaannya dara 21 tahun itu harus sambil
menjelaskan fungsi dan nilai positif fisioterapi. Dia harus melakukan
edukasi dan "kuliah" kepada setiap pemain yang belum paham tentang
fungsi fisioterapi.
Dari pengalaman awal bekerja, Nella harus melawan budaya pesepak bola
yang lebih percaya kepada tukang urut. Bahkan, awalnya dia dianggap
sebagai bagian dari tim yang bisa memijat.
"Fisioterapis bukan tukang urut atau tukang pijat. Kami lebih ke sport
science. Pemain masih mengira fisioterapis itu seperti tukang pijat,"
katanya.
Menurut dia, fisioterapi memang tak senyaman dipijat tukang urut.
Menjalani fisioterapi lebih melelahkan daripada dipijat. Namun, bukan
berarti dirinya mengerdilkan masseur klub. Hanya, dia menyebut harus ada
pembagian tugas yang jelas.
"Harus ada porsinya sendiri. Untuk recovery, penanganan kondisi pemain
dan cedera, itu job desk saya. Masseur lebih ke arah relaksasi," tutur
alumnus Jurusan Fisioterapi UI tersebut.
Memasuki bulan ketiga di sepak bola, Nella semakin dekat dengan para
pemain. Skuad PBR mulai terbiasa dengan segala tindakan fisioterapis.
Bahkan, pemain juga mulai aktif bertanya, baik secara langsung maupun
via ponsel untuk berkonsultasi tentang kondisinya.
Saking dekatnya dengan pemain, Nella mulai menjalani tugas ganda. Selain
menerima keluhan pemain tentang kondisi fisiknya, dia sering menerima
curhat para pemain.
Meski demikian, dia merasa nyaman-nyaman saja karena semakin dekat
dengan pemain. "Ya" saya juga bingung. Pemain itu kadang curhat. Bukan
cuma masalah hati, tapi juga keluarga. Mau tidak mau saya terima karena
itu cukup positif untuk membantu kerja saya, dicurhati sekaligus
fisioterapi," ucapnya lantas tertawa.
Namun, sebagai satu-satunya perempuan, Nella juga pernah merasakan
tingkah para pemain. Karena merasa kurang diperhatikan, ada pemain yang
iri dan sewot. Otomatis, dia pun harus menyesuaikan dan mengubah pola
komunikasi.
"Ini
pemain kok iri-irian. Ya, terpaksa saya harus mengerti dan memberikan
perhatian yang sama. Dengan demikian, mereka merasa diperlakukan secara
adil," cetusnya.
Nella mengaku, bertugas di lapangan sangat berbeda dengan di mes. Dia
juga sempat gugup luar biasa. Sebagai perempuan, dia harus bertemu
suasana lapangan yang sangat ramai. Itu berbeda jauh dengan pelajaran
yang didapat selama ini, yakni menjalani fisioterapi di tempat yang
relatif tenang.
Atmosfer ISL yang tak pernah dilupakannya adalah saat mendampingi tim
menjalani laga away melawan Arema Malang pada 28 Februari lalu. Saat itu
dia harus masuk ke lapangan untuk memeriksa pemain yang kesakitan.
Saat dia berlari masuk lapangan, Aremania yang melihatnya kompak
bersorak. Tak pernah merasakan atmosfer penonton yang sangat ramai di
Stadion Kanjuruhan, Malang, Nella langsung nervous.
"Sempat kaget, gugup. Rasanya kaki ini berat untuk melangkah. Mau
kembali ke bench salah. Itu pengalaman yang sangat luar biasa. Saya
semakin cinta dengan sepak bola dan atmosfernya di Indonesia," ucap
putri pasangan Agam Naga Figana dan Diana Rumi tersebut.
Jatuh cinta dengan sepak bola, Nella berharap ke depan semakin banyak
fisioterapis perempuan yang terjun ke sepak bola. Tapi, yang utama, dia
ingin klub sepak bola mengerti akan pentingnya fisioterapis untuk
membantu memaksimalkan penanganan kondisi pemain berdasar sport science.
Dengan apa yang sudah didapatkannya, dara kelahiran 16 November 1991
tersebut memiliki cita-cita tinggi. Nella ingin merasakan menjadi
fisioterapis untuk timnas. Sebab, itu akan menjadi salah satu
pengabdiaannya kepada negara.
Sumber: JPNN

0 komentar:
Posting Komentar